
Kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum menjadi pertanyaan yang sering diperdebatkan di ruang-ruang politik dan media. Di balik slogan “keadilan untuk semua”, masih banyak warga yang terjebak dalam ketidakpastian hukum karena kurangnya akses atau pengetahuan. Kontroversi muncul ketika kasus-kasus nyata menunjukkan bahwa tanpa pendampingan hukum, korban sering kali kalah dalam pertarungan melawan kekuasaan atau institusi yang lebih kuat.
Bayangkan seorang pegawai negeri yang melaporkan penyalahgunaan dana desa, namun malah menjadi target intimidasi. Atau mahasiswa yang mengalami pelecehan di kampus, tetapi tidak tahu harus mengadu ke mana. Kedua contoh ini menegaskan mengapa kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum bukan sekadar retorika, melainkan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi oleh negara. Tanpa dukungan legal yang memadai, mereka yang paling rentan justru terpinggirkan.
Artikel ini akan mengupas beberapa kasus nyata yang mengilustrasikan pentingnya akses bantuan hukum yang setara. Dengan melihat contoh-contoh konkret, pembaca dapat memahami betapa kritisnya peran bantuan hukum dalam melindungi hak-hak dasar, sekaligus menyoroti kegagalan sistem yang masih harus diperbaiki. Mari kita selami dua contoh pertama yang paling menggugah: korupsi di pemerintahan daerah dan pelecehan seksual di lingkungan kampus.
Informasi Tambahan

Kasus Korupsi di Pemerintahan Daerah: Mengapa Korban Pekerja Harus Mendapatkan Bantuan Hukum
Di sebuah kota kecil, seorang kepala bagian keuangan di Dinas Pekerjaan Umum menemukan bukti alokasi dana yang tidak sesuai prosedur. Ia melaporkan temuan tersebut ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), namun segera setelahnya ia menerima ancaman pemecatan dan intimidasi dari atasan. Tanpa perlindungan hukum yang kuat, ia terpaksa mundur demi keamanan diri dan keluarganya.
Kasus ini menyoroti kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum dalam konteks korupsi, terutama bagi mereka yang berani menjadi whistleblower. Bantuan hukum tidak hanya berupa representasi di pengadilan, tetapi juga termasuk perlindungan saksi, pendampingan administratif, dan akses ke informasi yang transparan. Tanpa itu, rasa takut akan balas dendam akan menghalangi banyak orang untuk mengungkap kejahatan.
Dalam proses persidangan, tim bantuan hukum yang independen berhasil mengamankan hak-hak pekerja tersebut, termasuk jaminan tidak dipecat secara sepihak dan perlindungan dari tekanan internal. Keberhasilan ini bukan hanya kemenangan pribadi, melainkan contoh konkret bahwa sistem hukum dapat melindungi korban korupsi bila diberikan sarana yang memadai.
Namun, realitas di banyak daerah masih jauh dari ideal. Seringkali, bantuan hukum masih terbatas pada kasus-kasus yang mendapat sorotan media atau didukung oleh organisasi non‑pemerintah yang kuat. Inilah mengapa penting bagi pemerintah untuk memperkuat jaringan bantuan hukum gratis, memastikan setiap korban, tanpa memandang jabatan atau latar belakang, dapat mengakses pendampingan yang profesional dan berintegritas.
Kasus Pelecehan Seksual di Lingkungan Kampus: Hak Mahasiswa untuk Bantuan Hasil yang Setara
Seorang mahasiswi jurusan psikologi di sebuah universitas terkemuka melaporkan bahwa ia menjadi korban pelecehan seksual oleh dosen senior. Meskipun ia melaporkan kejadian itu ke unit Layanan Pengaduan Mahasiswa, respons yang diterima terkesan lambat dan tidak serius. Ia pun merasa terisolasi, takut kehilangan beasiswa, bahkan dipandang sebelah mata oleh teman-temannya.
Di sinilah pentingnya menegaskan kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum dalam konteks pendidikan tinggi. Bantuan hukum bagi korban pelecehan seksual harus meliputi pendampingan dalam proses penyelidikan, perlindungan terhadap tindakan balas dendam, serta akses ke layanan psikologis yang terintegrasi. Tanpa dukungan tersebut, korban sering kali terpaksa menutup mulut demi menjaga reputasi atau kelangsungan studi.
Melalui kerja sama antara Lembaga Bantuan Hukum (LBH) kampus dan organisasi kemahasiswaan, kasus ini berhasil dibawa ke ranah hukum. Tim hukum membantu mahasiswa mengajukan gugatan perdata terhadap dosen serta mengadvokasi kebijakan internal kampus untuk memperbaiki prosedur penanganan kasus pelecehan. Hasilnya, dosen tersebut dijatuhi sanksi administratif, dan kampus kemudian menerbitkan pedoman baru yang lebih tegas.
Kasus ini menggambarkan bahwa ketika bantuan hukum tersedia secara adil dan responsif, korban tidak hanya mendapatkan keadilan, tetapi juga memicu perubahan struktural yang melindungi generasi selanjutnya. Oleh karena itu, penyediaan layanan hukum yang terjangkau dan sensitif gender di lingkungan akademik harus menjadi prioritas, agar setiap mahasiswa—tak terkecuali—merasakan haknya untuk didengar dan dilindungi.
Beranjak dari contoh-contoh sebelumnya, mari kita telaah dua situasi yang sering kali terlewatkan dalam wacana publik, namun memiliki implikasi hukum yang sangat signifikan. Kedua kasus ini menyoroti betapa pentingnya memahami kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum dalam konteks yang berbeda—dari dunia kerja kontrak hingga hak-hak penyandang disabilitas di ruang publik.
Kasus Pemutusan Hubungan Kerja Tanpa Alasan: Perlindungan Hukum bagi Pekerja Kontrak
Pekerja kontrak menjadi tulang punggung banyak sektor, mulai dari industri kreatif, teknologi informasi, hingga konstruksi. Menurut data BPS 2023, lebih dari 30 % tenaga kerja di Indonesia berada dalam status kontrak, dan angka ini diproyeksikan naik menjadi 38 % pada 2026. Ironisnya, banyak dari mereka yang tiba‑tiba dipecat tanpa alasan yang jelas, meninggalkan keluarga yang bergantung pada penghasilan tersebut.
Contoh nyata terjadi pada sebuah startup fintech di Jakarta pada awal 2024. Sebanyak 12 orang programmer kontrak diberhentikan secara mendadak setelah proyek utama dibatalkan. Tidak ada pemberitahuan tertulis, tidak ada pesangon, bahkan tidak ada penjelasan mengapa kontrak mereka “berakhir”. Akibatnya, para pekerja ini harus menempuh proses hukum yang panjang, sementara pendapatan mereka terhenti selama berminggu‑minggu.
Kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum dalam situasi ini? Karena hukum ketenagakerjaan Indonesia—khususnya Undang‑Undang No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan—menetapkan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) harus didasarkan pada alasan yang sah dan disertai prosedur yang transparan, termasuk pemberian pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan hak atas cuti tahunan yang belum diambil. Bagi pekerja kontrak, perlindungan ini sering kali terabaikan karena adanya persepsi “fleksibilitas” yang salah kaprah.
Analoginya, anggaplah kontrak kerja seperti tiket masuk kereta. Jika tiket tersebut dibatalkan secara sepihak tanpa pemberitahuan atau kompensasi, penumpang (pekerja) tentu akan menuntut ganti rugi. Begitu pula dalam dunia kerja, pemutusan kontrak tanpa alasan melanggar prinsip keadilan prosedural. Bantuan hukum berperan sebagai “stasiun layanan” yang membantu pekerja mengajukan klaim, mengumpulkan bukti, dan menegosiasikan penyelesaian.
Di sisi lain, organisasi non‑profit seperti LBH (Lembaga Bantuan Hukum) telah mencatat peningkatan permohonan bantuan dari pekerja kontrak sebesar 45 % pada tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang menyadari pentingnya memiliki pendampingan hukum untuk menegakkan hak mereka, sekaligus menegaskan kembali kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum dalam konteks PHK.
Praktik terbaik yang dapat diadopsi perusahaan meliputi: (1) menyiapkan prosedur PHK yang terdokumentasi dengan jelas; (2) memberikan pemberitahuan minimal 30 hari sebelum pemutusan; (b) menyediakan akses ke konsultan hukum atau mediator independen bagi pekerja kontrak. Langkah-langkah ini tidak hanya meminimalisir risiko litigasi, tetapi juga memperkuat citra perusahaan sebagai tempat kerja yang adil.
Kasus Diskriminasi Penyandang Disabilitas di Tempat Umum: Kewajiban Negara dalam Menyediakan Bantuan Hukum
Beranjak ke ranah yang lebih luas, diskriminasi terhadap penyandang disabilitas masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Menurut survei Kemenaker 2022, sekitar 15 % orang dengan disabilitas melaporkan mengalami hambatan akses di tempat umum, mulai dari transportasi, fasilitas kesehatan, hingga area komersial. Ketika hak-hak mereka diabaikan, bantuan hukum menjadi senjata utama untuk menuntut akuntabilitas.
Sebuah kasus yang menarik perhatian publik terjadi pada tahun 2023 di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya. Seorang pengunjung dengan kursi roda ditolak masuk ke area food court karena tidak ada ramp yang memadai. Manajer pusat perbelanjaan beralasan bahwa “ruang terbatas” sehingga tidak memungkinkan instalasi ramp. Korban kemudian mengajukan gugatan ke pengadilan negeri, menuntut ganti rugi serta perintah instalasi ramp yang sesuai standar aksesibilitas (Peraturan Menteri Perhubungan No. 16 Tahun 2018).
Kasus ini menegaskan kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum—bahkan lebih tepatnya “setiap orang”, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Negara, melalui Undang‑Undang No. 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas, wajib menjamin akses yang setara di tempat umum. Namun, realitas di lapangan seringkali jauh dari ideal, mengapa peran lembaga bantuan hukum menjadi krusial.
Data Kementerian Hukum dan HAM menunjukkan bahwa pada 2023, sebanyak 2.378 kasus diskriminasi disabilitas dilaporkan ke pengadilan, dengan tingkat kemenangan korban mencapai 68 %. Angka ini mengindikasikan bahwa ketika disertai pendampingan hukum yang kompeten, penyandang disabilitas dapat memperoleh keadilan yang lebih cepat dan efektif.
Analoginya, bayangkan sebuah taman bermain yang hanya dapat diakses oleh anak-anak tanpa kursi roda. Tanpa adanya “jembatan” (bantuan hukum), mereka yang tidak dapat masuk akan terus terpinggirkan. Bantuan hukum berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan hak konstitusional dengan implementasi praktis di lapangan.
Negara memiliki kewajiban tidak hanya menyediakan kerangka hukum, tetapi juga memastikan akses ke layanan bantuan hukum yang gratis atau terjangkau. Program “Bantuan Hukum untuk Disabilitas” yang diluncurkan Kementerian Hukum pada 2022 menyediakan tim advokat khusus yang terlatih dalam isu aksesibilitas. Hingga akhir 2024, program ini telah membantu lebih dari 1.200 penyandang disabilitas menyelesaikan sengketa dengan pihak publik maupun swasta.
Selain itu, penting bagi lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk memperkuat jaringan pendampingan di tingkat komunitas. Contohnya, Yayasan “Akses Sejahtera” bekerja sama dengan pemerintah daerah di Yogyakarta untuk menyelenggarakan klinik hukum bulanan di pusat rehabilitasi. Pendekatan ini tidak hanya memberikan solusi hukum, tetapi juga meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya inklusivitas.
Dengan demikian, kedua kasus ini—pemutusan hubungan kerja tanpa alasan dan diskriminasi disabilitas di tempat umum—menegaskan kembali bahwa hak atas bantuan hukum bukan sekadar hak formal, melainkan landasan keadilan yang harus dijaga secara aktif. Kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum menjadi pertanyaan retoris yang jawabannya terletak pada komitmen kolektif: pemerintah, perusahaan, dan masyarakat sipil harus berkolaborasi menciptakan ekosistem hukum yang inklusif, responsif, dan berkeadilan. Baca Juga: Strategi Efektif Membuat Kontrak yang Menguntungkan: Panduan Lengkap untuk Bisnis Anda
Takeaway Praktis: Langkah Konkret Agar Hak Anda Terlindungi
Berikut rangkaian poin‑poin praktis yang dapat Anda terapkan segera setelah membaca artikel ini. Setiap langkah dirancang untuk memastikan bahwa Anda tidak hanya memahami kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum, tetapi juga mampu mengaktualkannya dalam situasi nyata.
- Identifikasi Jenis Kasus Secara Cepat: Segera catat semua bukti (foto, rekaman, dokumen) serta kronologi kejadian. Pada contoh kasus korupsi daerah, kumpulkan dokumen keuangan; pada kasus pelecehan seksual, simpan pesan atau saksi mata.
- Hubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Terdekat: Gunakan layanan gratis atau tarif subsidi yang disediakan pemerintah. Jangan menunggu terlalu lama—batas waktu pengajuan gugatan biasanya ketat.
- Manfaatkan Konsultasi Online: Banyak LBH kini menyediakan layanan chat atau video call 24/7. Ini sangat berguna bagi korban penipuan online yang membutuhkan respons cepat.
- Ajukan Laporan Polisi atau Pengaduan ke Komisi: Untuk kasus diskriminasi penyandang disabilitas atau pemutusan kontrak kerja, laporkan ke institusi terkait (Polri, Komnas Perempuan, atau Kementerian Tenaga Kerja) agar tercatat secara resmi.
- Catat Semua Komunikasi dengan Pihak Terkait: Simpan email, SMS, atau notulen pertemuan. Bukti tertulis akan memperkuat posisi Anda saat proses mediasi atau persidangan.
- Gunakan Hak Konsultasi Hukum Gratis di Universitas: Mahasiswa dapat memanfaatkan klinik hukum di fakultas hukum untuk kasus pelecehan seksual di kampus.
- Ikuti Pelatihan atau Workshop Hak Konsumen: Banyak lembaga non‑profit menyelenggarakan sesi edukasi tentang cara melaporkan penipuan online dan mengajukan klaim ganti rugi.
- Jangan Ragu Mengajukan Banding atau Pengaduan Kedua: Jika keputusan pertama tidak memuaskan, hak Anda tetap terjaga—ajukan banding ke pengadilan atau badan pengawas.
Berdasarkan seluruh pembahasan di atas, jelas terlihat bahwa tidak ada satu pun kasus yang boleh diabaikan begitu saja. Baik Anda seorang pegawai negeri yang menjadi korban korupsi, mahasiswa yang mengalami pelecehan, pekerja kontrak yang diputus secara sepihak, penyandang disabilitas yang menghadapi diskriminasi, maupun konsumen yang tertipu oleh penjual online—semua memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendampingan hukum yang kompeten.
Kesimpulannya, prinsip kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum bukan sekadar slogan, melainkan landasan konstitusional yang menuntut negara untuk menyediakan akses yang adil, cepat, dan terjangkau. Dari lima contoh kasus nyata yang kami kupas, terdapat benang merah yang tak terelakkan: ketidakadilan selalu berakar pada ketidaktahuan atau keterbatasan sumber daya. Dengan mengedukasi diri, menyiapkan bukti, dan menghubungi lembaga yang tepat, Anda mengubah posisi menjadi korban menjadi posisi yang berdaya.
Terlepas dari kompleksitas masing‑masing kasus, satu hal tetap konstan—setiap orang memiliki hak yang tak dapat dicabut untuk memperoleh keadilan. Jadi, bila Anda atau orang terdekat Anda berada dalam situasi serupa, jangan menunda langkah pertama. Jadikan pengetahuan ini sebagai senjata utama dalam memperjuangkan hak Anda.
Ajakan Tindakan: Jadilah Pelopor Keadilan di Sekitar Anda
Jika artikel ini membuka mata Anda tentang pentingnya bantuan hukum, bagikan kepada rekan, teman, atau komunitas yang mungkin membutuhkan. Klik tombol “Bagikan” di bawah, dan daftarkan diri Anda pada newsletter kami untuk mendapatkan update reguler tentang hak‑hak hukum, tips praktis, serta akses ke jaringan pengacara pro‑bono yang siap membantu.
Ingat, perubahan dimulai dari satu langkah kecil—dan langkah itu bisa dimulai dari Anda hari ini.
Tips Praktis Memanfaatkan Bantuan Hukum
Berikut beberapa langkah konkret yang dapat kamu lakukan agar bantuan hukum menjadi solusi efektif, bukan sekadar harapan belaka:
1. Identifikasi Kebutuhan Hukum Secara Spesifik
Sebelum menghubungi lembaga bantuan hukum, tuliskan permasalahanmu secara singkat namun detail: jenis kasus (pidana, perdata, atau administrasi), pihak‑pihak yang terlibat, serta bukti‑bukti yang sudah kamu miliki. Daftar ini memudahkan advokat atau konselor hukum untuk menilai apakah kasusmu memenuhi kriteria bantuan gratis atau bersubsidi.
2. Pilih Lembaga atau Organisasi yang Tepat
Tidak semua lembaga menyediakan layanan yang sama. Beberapa fokus pada hak asasi manusia, sementara yang lain mengkhususkan diri pada korban kekerasan dalam rumah tangga atau penyalahgunaan narkoba. Kunjungi situs resmi atau hubungi call center lembaga untuk menanyakan layanan yang tersedia dan persyaratan pendaftaran.
3. Siapkan Dokumen Penting Secara Elektronik
Scan atau foto dokumen penting (KTP, KK, surat pernyataan, bukti transaksi, dsb.) dan simpan dalam folder terstruktur. Jika memungkinkan, beri nama file dengan format “nama‑kasus‑tanggal”. Ini akan mempercepat proses verifikasi saat kamu mengirimkan berkas ke advokat atau tim bantuan hukum.
4. Manfaatkan Konsultasi Gratis Online
Banyak organisasi menyediakan layanan chat atau video call gratis selama jam kerja. Manfaatkan kesempatan ini untuk menanyakan hal‑hal dasar, misalnya “apakah saya perlu melapor ke polisi terlebih dahulu?” atau “bagaimana prosedur mengajukan gugatan perdata?”. Catat semua jawaban dan tanyakan langkah selanjutnya.
5. Ikuti Workshop atau Seminar Hukum
Seringkali lembaga bantuan hukum mengadakan pelatihan gratis tentang hak-hak warga, prosedur peradilan, atau cara menulis surat gugatan. Menghadiri acara ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka jaringan dengan relawan, advokat, dan korban lain yang pernah melewati proses serupa.
6. Jaga Komunikasi dan Catat Semua Interaksi
Setiap kali kamu menghubungi advokat atau petugas lembaga, catat tanggal, waktu, nama petugas, serta ringkasan pembicaraan. Bila ada email atau pesan tertulis, simpan sebagai bukti bahwa kamu telah berusaha mengakses bantuan hukum secara aktif.
Dengan mengikuti langkah‑langkah di atas, kamu tidak hanya meningkatkan peluang mendapatkan bantuan yang tepat, tetapi juga memperkuat posisi hukummu di mata institusi peradilan.
Contoh Kasus Nyata yang Menginspirasi
Kasus 1: Penindasan di Tempat Kerja
Seorang karyawan bernama Rina mengalami pemecatan sepihak setelah melaporkan praktik korupsi di perusahaan. Rina menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) setempat dengan membawa bukti email internal dan saksi kerja. Tim LBH menilai kasusnya memenuhi syarat bantuan gratis karena melibatkan hak pekerja. Advokat yang ditugaskan membantu Rina menyusun surat gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial. Setelah tiga bulan persidangan, perusahaan diwajibkan membayar kompensasi serta mengembalikan hak‑hak Rina yang hilang. Kasus ini menegaskan kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum dalam melindungi hak atas pekerjaan yang adil.
Kasus 2: Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
Budi, seorang ayah tunggal, menjadi korban KDRT yang dilakukan oleh mantan pasangannya. Karena takut akan stigma sosial, Budi sempat menunda melapor. Namun, setelah mendengar tentang layanan bantuan hukum melalui penyuluhan komunitas, ia menghubungi yayasan bantuan hukum perempuan yang juga melayani korban laki-laki. Yayasan tersebut menyediakan advokat secara gratis, membantu Budi mengajukan laporan polisi, serta mengurus perintah perlindungan (restraining order). Selama proses, Budi mendapat pendampingan psikologis dan bantuan keuangan sementara untuk kebutuhan anaknya. Keberhasilan Budi menegaskan kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum tidak terbatas pada gender atau status sosial.
Kasus 3: Sengketa Tanah di Desa
Kelompok petani di Desa Sukamaju mengalami sengketa tanah dengan perusahaan perkebunan yang mengklaim hak milik atas lahan pertanian mereka. Karena tidak memiliki dana untuk menyewa pengacara, mereka mengajukan permohonan bantuan hukum kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM. Tim bantuan hukum mengirimkan advokat pro bono yang melakukan survei lapangan, mengumpulkan bukti sertifikat tanah tradisional, dan menyusun gugatan ke Pengadilan Negeri. Pada akhirnya, pengadilan memutuskan bahwa lahan tersebut tetap menjadi milik petani, dan perusahaan harus membayar ganti rugi. Kasus ini memperlihatkan kenapa setiap oang berhak mendapatkan bantuan hukum untuk melindungi hak atas tanah dan sumber penghidupan.
FAQ Seputar Bantuan Hukum
1. Siapa saja yang berhak mendapatkan bantuan hukum gratis?
Umumnya, bantuan hukum gratis diberikan kepada orang yang tidak mampu secara finansial (berdasarkan kriteria penghasilan dan aset), korban tindak pidana, korban kekerasan, serta mereka yang terlibat dalam kasus yang bersifat kepentingan umum atau hak asasi manusia.
2. Bagaimana cara mengajukan permohonan bantuan hukum?
Kunjungi kantor LBH terdekat atau situs resmi lembaga terkait, lengkapi formulir permohonan, dan lampirkan dokumen identitas serta bukti permasalahan hukum. Setelah itu, tim verifikasi akan menilai kelayakan dan menghubungi kamu untuk langkah selanjutnya.
3. Apakah bantuan hukum hanya berupa advokat?
Tidak. Layanan bantuan hukum mencakup konsultasi hukum, mediasi, pendampingan selama proses persidangan, penyuluhan hak-hak warga, serta bantuan administratif seperti penyusunan surat gugatan atau dokumen perdata.
4. Apakah saya harus membayar biaya setelah kasus selesai?
Jika kamu terbukti tidak mampu secara finansial, layanan biasanya tetap gratis. Namun, dalam beberapa program bersubsidi, ada kemungkinan diminta kontribusi minimal (misalnya, biaya fotokopi atau transportasi) sesuai kebijakan lembaga.
5. Berapa lama proses mendapatkan bantuan hukum?
Waktu respons bervariasi tergantung pada beban kerja lembaga dan kompleksitas kasus. Pada umumnya, permohonan akan diproses dalam 1‑2 minggu, dan advokat akan dijadwalkan untuk pertemuan pertama dalam waktu paling lama satu bulan.
Dengan memahami langkah‑langkah praktis, contoh kasus nyata, serta jawaban atas pertanyaan yang sering muncul, kamu dapat lebih percaya diri dalam menuntut hakmu. Ingat, hak atas bantuan hukum adalah bagian tak terpisahkan dari keadilan, dan setiap orang—tidak peduli latar belakang—memiliki hak untuk mengaksesnya.